Tertawa Bersama Smurf

FILMJuly 25, 2013 Hits : 1283



Test Modul 3

"Si Biru" yang menggemaskan ini datang kembali. Kali ini desa Smurf sedang dilanda kesibukan merayakan ulang tahun si kembang desa, Smurfette (diisi suara Katy Perry), yang memiliki rambut pirang nan indah. Ketika ia berjalan melenggang dan mengibaskan rambutnya, para pria smurf menahan napas.

Masalahnya, Smurfette ini warga "baru" di desa itu. Ia baru mengalami perubahan identitas dari smurf jahat (dengan kulit pucat tanpa warna) menjadi smurf baik yang ditandai dengan kulitnya yang menjadi biru. Meski sudah biru, Smurfette masih sering dilanda mimpi buruk, yakni bertemu kembali dengan penciptanya, penyihir jahat bernama Gargamel (Hank Azaria). 

Menjelang ulang tahunnya, mimpi buruk itu semakin sering muncul. Meskipun Papa Smurf terus meyakinkan bahwa Smurfette sudah "true blue" dan sudah diterima sebagai warga smurf, toh Smurfette masih kerap ragu.

Keraguan itu memuncak ketika di hari ulang tahunnya tak ada satu pun warga smurf yang mengingatnya, apalagi peduli. Padahal, warga smurf hanya pura-pura. Mereka sedang mempersiapkan perayaan kejutan untuk Smurfette.

Namun, baiklah kita kembali dulu kepada Gargamel, yang saat ini sudah menciptakan dua makhluk baru "setengah smurf" yang sangat nakal, yaitu Vexy (suara Christina Ricci) yang seksi dan Hackus (George Lopez). Untuk menjadi smurf sejati, keduanya membutuhkan ramuan ajaib. Yang mengetahui formulanya hanyalah Smurfette. Gargamel mengupayakan segala cara untuk bisa menguasai ramuan itu. Karena hanya dengan cara itulah, ia bisa menguasai dunia smurf.

Pesan smurf
Nah, di saat Smurfette sedang bersedih, Vexy pun datang ke desa smurf dan menculiknya. Smurfette dibawa ke dunia nyata, tepatnya di Paris, tempat Gargamel berkarier sebagai penyihir yang diidolakan warga Paris.

Di kota ini, Vexy mengenalkan Smurfette kepada semua kenakalan duniawi. Betapa bahagianya Smurfette menjadi "dirinya" kembali, seperti mengacak-acak toko, merusak permainan, dan menjerembapkan orang. Semua kenakalan itu membuatnya "hidup". Perubahan itu membuat Papa dan ketiga smurf yang mencarinya ke Paris nyaris putus asa. Smurfette telah kembali menjadi smurf bertabiat jahat.

Tentu saja ini film anak-anak. Semua serba hitam putih. Tetapi, bukankah pesan ini yang memang ingin disampaikan? 

Lihatlah keriuhan di dalam gedung bioskop. Ada penonton cilik yang minta diantar pipis di tengah pertunjukan, yang bertengkar dengan adiknya karena sang adik berdiri dari tempat duduk saking tegangnya melihat kejar-kejaran di layar dan menghalangi pandangan sang kakak. Tangisan pun meledak.

Terganggu? Tentu tidak. Dunia smurf sudah menyatu dengan imajinasi mereka. Ketika smurf menyanyi "la-la-la", mereka pun menyanyi. Ketika desa smurf larut dalam joget bersama, anak-anak ini bertepuk-tepuk tangan sambil menggoyangkan badan.

Jalan cerita yang berbelit, kehadiran tokoh-tokoh manusia yang justru membuat distraksi, tak lagi penting. Mereka mengerti bahasa smurf. Merasa smurf ketika Gargamel di smurf!

Berikan Komentar Anda Disini :